Sibuk dan Produktif Itu Beda, Kamu yang Mana?


Hai hudaily friends, apa yang kalian lakukan saat ini? Masih di masa pandemi kita lebih banyak waktu di rumah. Kalau dulu beraktivitas di luar rumah atau jalan-jalan, saat ini meski sudah New Normal kita tetap harus hati-hati.

Oh iya, ngomongin tentang aktivitas, ada yang bikin sibuk ada pula yang bikin produktif. Kalian udah tahu belum bedanya apa? Yuk simak penjelasan yang dikutip dari intisari.grid.id berikut ini.

Impresi

Di dalam rapat, orang sibuk akan menyampaikan hal-hal yang sedang dikerjakan dan akan dikerjakan.

Buat atasan yang tidak terlalu hands on atau memahami pekerjaan timya, anak buah tipe sibuk ini akan aman. Predikat rajin dan pekerja keras akan ia peroleh.

Akan tetapi di periode mendekati akhir proyek, atau di akhir tahun, predikat ini dipertaruhkan.

Apakah si anak rajin ini juga memberikan hasil dari semua kesibukan yang dilakukannya? 

Untuk impresi jangka pendek, orang sibuk seakan di atas angin. Namun untuk kepentingan karier jangka panjang, orang produktif yang akan memenangkan maratonnya.

Proses dan hasil

Orang sibuk akan fokus pada aktivitas yang dilakukan, sementara orang produktif cenderung lebih fokus pada yang seharusnya dihasilkan.

Orang produktif memulai kerjanya dengan memperjelas target dan tujuan dari yang dikerjakannya, baru kemudian menentukan apa yang harus dilakukan.

Orang produktif juga menambahkan “nyawa” dari pekerjaannya, dengan memahami mengapa hal itu harus dilakukan.

Di sisi lain, orang sibuk akan memulai pekerjaannya dengan fokus pada apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melakukannya.

Jadi orang produktif dalam setiap langkah yang diambilnya secara strategis akan lebih mendekatkannya pada tujuan akhir, sementara orang sibuk belum tentu.

Karakter

Apakah perbedaan orang sibuk dan orang produktif ini dipengaruhi karakter? Saya lebih memilih untuk membedahnya dari sisi cara, kemampuan, dan sikap kerja. 

Cara kerja: apakah memulai pekerjaan dari memperjelas tujuan (why), atau dari apa dan bagaimana (what & how).

Tidak semua orang menyadari apakah cara kerjanya menjadikannya sebagai orang produktif atau orang sibuk.

Bila posisi kita sebagai atasan, ini bagian dari peran kita sebagai coach untuk melatihkan cara kerja yang lebih produktif.

Kemampuan kerja: seberapa jauh kita bisa merumuskan tujuan kerja, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam langkah kerja?

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menentukan strategi agar kita mampu bekerja dengan upaya dan biaya yang efisien, namun memberikan hasil yang paling optimal.

Sikap kerja: apa yang menjadi orientasi bekerja?

Apakah lebih untuk kepentingan diri sendiri atau bisa membawa manfaat bagi banyak pihak?

Apakah yang penting pekerjaan selesai di hari itu, atau pekerjaan yang membawa hasil?

Jadi, mau sekadar sibuk, atau produktif?

Tidak ada komentar