Ekspektasi dan Potensi: Jangan 'Memojokkan' Ikan Hanya Karena Dia Tidak Bisa Terbang


Hai hudaily friends, apa kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu ya, semoga hari-hari kalian indah.

Beberapa hari terakhir ini saya memikirkan banyak hal, salah satunya adalah tentang ekspektasi orang lain terhadap kita. Siapapun itu; teman, keluarga, atau kekasih. Yang paling rumit biasanya adalah tuntutan dari keluarga.

Saya katakan rumit karena sering kali dibanding-bandingkan dengan tetangga, dengan orang lain yang pada dasarnya nggak bisa disamakan. Kita sudah punya garis hidup masing-masing, jadi nggak bisa dipukul rata.

Ini menjadi ironi tersendiri dalam masyarakat, dalam keluarga, dalam sebuah hubungan. Misalnya saja; melihat anak tetangga melakukan hal yang keren, orangtua juga mengatakan pada anaknya; si A itu keren banget orangnya, masa kamu nggak bisa kayak dia. Bukannya nggak bisa, kadang potensi setiap orang itu memang berbeda.

Saya mengamati banyak hal tentang ekspektasi yang salah kaprah ini, apalagi dalam sebuah keluarga. Entah kenapa seolah-olah banyak orangtua yang tidak memahami anaknya dengan baik. Pada akhirnya, si anak akan kehilangan kepercayaan pada orangtua. Dia tidak ingin berbagi cerita atau hal-hal kecil hingga besar yang terjadi pada dia.

Berekspektasi pada seseorang tidaklah buruk, hanya saja jika terlalu tinggi dan tidak sesuai hanya akan menimbulkan keretakan nantinya.

Ikan berenang di air, monyet di pepohonan, burung-burung terbang, dan perbedaan potensi atau keahlian setiap orang juga seperti itu. Berbeda. Ikan nggak bisa terbang kecuali ikannya indosiar, burung nggak bisa menyelam.

Jadi berhentilah mengharapkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan seseorang, ketahuilah bahwa dia juga memiliki potensi lain. Jangan memojokkan ikan hanya karena ikan tidak bisa terbang.

Sayangnya masih banyak yang enggan mengerti pada hal seperti ini, banyak orangtua yang menuntut kehendak padahal itu adalah hidup anaknya dan sudah sepatutnya si anak memilih jalan yang memang ingin dipilihnya.

Setiap orang ingin merdeka, terbelenggu pada sesuatu hanya akan menjadi gembok yang mengunci banyak potensi. Sekali lagi, potensi setiap orang itu berbeda, dan para orangtua harus tahu akan hal ini. Para calon orangtua juga harus paham.

Pernah nggak nonton film India yang judulnya '3 Idiots'?

Di film itu, anak laki-laki dipaksa menjadi insinyur. Padahal ada yang nggak mau, ada yang potensinya menjadi fotografer berbakat. Tapi karena orangtua memaksa, akhirnya dia masuk sekolah insinyur.

Dengan banyak cara, orangtuanya sadar kok! Nah, itu hanya salah satu contoh saja. Semisal anak-anak tidak bisa mengerjakan soal matematika, bukan berarti dia bodoh. Bisa jadi dia memang tidak suka matematika, mungkin dia suka menggambar!

Sudah menjadi tugas orangtua untuk memahami anak-anaknya, bukan malah menuntut sampai membanding-bandingkan dengan orang lain. Istilahnya itu toxic parents.

Semoga ada hal yang bisa dipelajari yaa dari celoteh singkat ini :)


Tidak ada komentar